Minggu, 31 Oktober 2010

Bergabunglah Bersama ISPI



Ikatan Sarjana Pendidikan Iindonesia (ISPI) merupakan organisasi profesi di bidang pendidikan dalam arti yang seluas-luasnya. ISPI bertujuan menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk pembangunan Pendidikan Nasional secara profesional agar lebih terarah, berhasil guna dan berdaya guna, melalui pengembangan dan penerapan Ilmu Pendidikan untuk kemajuan dan kepentingan bangsa dan negara.
Demi tercapainya tujuan di atas, kami mengundang sarjana-sarjana pendidikan di Cilacap, dengan latar-belakang aktifitas dan pekerjaan apapun, untuk bergabung bersama kami...
BERKARYA DALAM SEMANGAT PENGABDIAN .. !
Anda bisa bergabung secara on-line dengan mengirimkan biodata anda melalui e-mail ke mirzagholam@rocketmail.com, dengan format biodata sbb.:
1. Nama (lengkap dengan gelar)
2. Tempat/tgl. lahir
3. Jenis kelamin
4. Pendidikan (Nama Perguruan Tinggi, Fakultas, Program Studi/Jurusan, tahun lulus)
5. Alamat Rumah (lengkap dengan nomor telepon)
6. Pekerjaan / aktifitas
Catatan :
Sertakan pasfoto (berwarna) dalam format JPEG/GIF.

Kamis, 28 Oktober 2010

MENJADI GURU IDOLA



Oleh : AR. Sugeng Riyadi, S.Pd.


Ternyata sejak 1937 Ki Hadjar Dewantara sudah pernah menuliskan dua dimensi seorang Guru; yakni Gu=digugu dan Ru=ditiru. Maka menjadi GuRu harus bisa digugu (dipercaya) dan ditiru (diteladani). Bukan waGU dan saRU atau setiap mingGu bisanya tuRU…

Guru Idola = Gurunya Manusia:

Salah satu materi yang beliau sampaikan, kalau mau jadi guru yang diGUgu dan ditiRU, maka harus mampu mengamalkan 5 paradigma berikut:

  1. Menjadikan 3 sasaran bidang garap pendidikan (koginitif-psikomotor-afektif) berkembang secara optimal.
  2. Mengakui dan menghargai kecerdasan anak yangberbeda
  3. Menyesuaikan gaya belajar siswa
  4. Menfokuskan pada aktifitas siswa
  5. Menfokuskan pada penguatan kemampuan BUKAN ketidakmampuan siswa

Kontrak Belajar:

Kebanyakan guru, pertama kali masuk kelas mestinya melakukan kontrak belajar, sejenis MoU antara Guru dan Murid. Guru punya komitment yang wajib diikuti murid, dan murid diminta juga punya hak yg harus dipenuhi sekaligus wajib bertanggungjawab atas kewajibannya sebagai murid. Maka akan klop antara guru dan murid, sehingga KBM bisa berjalan dengan baik. Ada saling take and give.

Dicontohkan, saat pertama tatap muka; guru minta agar murid menulis yang dimaui dari cara mengajar, sebaliknya guru boleh menuntut murid disiplin; sehingga ada timbal balik. Selanjutnya pihak sekolah di akhir semester melakukan angket tentang cara mengajar seorang guru pada seluruh murid, yang sukses diberi reeward. Jadi jangan hanya murid yang diuji, guru juga wajib diuji.

Sebaliknya, kalau kontrakbelajar ndak dilakukan, maka yg terjadi seperti kebanyak yang selama ini guru lakukan; yakni guru hanya mengira2 saja cara yang baik dalam mengajar. Cara yang tidak logis, cara yang hanya membathin; sebab seolah guru menguasai ilmu kebatinan. Dunia KBM memerlukan ilmu yang logis, ilmu yang terukur. Sebab yang akan dinilai adalah tiga ranah kemampuananak didik: kognitif-psikomotor-afektif.


Penulis adalah alumnus Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA IKIP Yogyakarta (sekarang UNY), sekarang aktif sebagai Staff Pengajar di PPMI Assalam Surakarta.

Senin, 30 Agustus 2010

PEMBELAJARAN BERBASIS LINGKUNGAN DITERAPKAN BERPUISIPUN JADI MENYENANGKAN



Oleh: Mahmud Saefi, M.Pd.

Ada kegelisahan yang dirasa oleh penulis ketika mengajar apresiasi puisi di kelas. Mengapa sebagian besar sikap siswa tampak pasif, kurang antusias mengikuti pembelajaran dan daya apresiasi puisi siswa kurang optimal? Berawal dari kondisi itu penulis mencoba menggali penyebab akar permasalahan melalui sharing dan diskusi dengan rekan guru serta informasi dari siswa.
Hasil diskusi dengan guru serumpun, wawancara dan isian angket siswa mengindikasikan bahwa penyebab kompetensi apresiasi puisi siswa belum optimal adalah strategi pembelajaran apresiasi puisi yang selama ini digunakan kurang tepat. Hal itu disebabkan oleh: (1) penyampaian materi terlalu banyak menggunakan metode ceramah; (2) materi apresiasi puisi masih terbatas pada aspek pengetahuan yang bersifat teoritis saja; (3) siswa jarang dilibatkan secara langsung. Oleh karena itu penulis melakukan perbaikan proses pembelajaran dengan menerapkan suatu strategi pembelajaran yang menarik, inovatif dan menyenangkan. Perbaikan dilakukan penulis dengan menerapkan strategi pembelajaran apresiasi sastra berbasis lingkungan. Upaya tersebut dilakukan penulis melalui penelitian tindakan yang berkolaborasi dengan seorang guru serumpun. Lingkup materi tindakan dilakukan pada kompetensi dasar menulis kreatif puisi berkenaan dengan lingkungan. Hasil penelitian ini telah membawa dampak yang positif terhadap kualitas pembelajaran di kelas maupun kompetensi penulis dalam memperbaiki strategi pembelajaran. Melalui forum yang baik ini penulis ingin sedikit berbagi pengalaman.
Sebelum melakukan tindakan, terlebih dahulu penulis bersama kolaborator melakukan perencanaan. Kegiatan perencanaan yang dilakukan penulis meliputi kegiatan: merancang skenario pembelajaran, menyusun rencana pembelajaran (materi menulis puisi dengan tema lingkungan berdasarkan silabus), mempersiapkan: media visual teks puisi yang sudah dikenal siswa, foto objek lingkungan, LCD proyektor, instrumen yang akan digunakan, serta menyimulasikan skenario pembelajaran di kelas yang akan diteliti.

Pembelajaran Menulis Puisi Berbasis Lingkungan
Pembelajaran berbasis lingkungan (PBL) merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang berusaha untuk meningkatkan keterlibatan peserta didik melalui pendayagunaan lingkungan sebagai sumber belajar. Strategi ini merupakan salah satu strategi pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Filosofinya, kegiatan pembelajaran menjadi menarik, siswa menjadi senang dan aktif karena apa yang dipelajari diangkat dari lingkungan, apa yang dipelajari berhubungan dengan kehidupan di sekitar siswa. Pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa berhadapan langsung dengan objek yang sebenarnya. Penulis menerapkan pembelajaran menulis puisi berbasis lingkungan ini melalui dua strategi.

1. Pembelajaran menulis puisi dilakukan dengan membawa sumber dari lingkungan ke dalam kelas.
Sumber lingkungan yang dibawa penulis ke dalam kelas berupa foto-foto objek lingkungan alam. Objek tersebut ditayangkan menggunakan LCD Proyektor . Kegiatan siswa di sini adalah mengamati tayangan objek tersebut, mencatat apa saja yang teramati lalu menuangkan dalam bentuk kosakata. Seiring siswa menyimak tayangan pada layar monitor, penulis memperdengarkan iringan alunan musik instrumental yang sayup-sayup lembut. Selesai siswa menuliskan kosakata dilanjutkan kegiatan merangkai kosakata. Kosakata tersebut digunakan sebagai kata kunci untuk dikembangkan menjadi larik-larik puisi. Siswa yang sudah selesai menuliskan puisi, diminta untuk membacakan hasil ciptaan puisinya ke depan kelas. Siswa yang lain diminta memberikan tanggapan terhadap karya puisi yang baru saja dibacakan. Hal-hal yang ditanggapi siswa berkaitan dengan bagaimana isi puisi, pilihan kata, dan rima.
2. Kegatan menulis puisi dilakukan di luar kelas.
Sebelum pembelajaran di luar kelas dilakukan terlebih dahulu diberikan instruksi yang jelas tentang hal-hal yang harus dilakukan siswa selama di luar kelas, misalnya siswa diminta mengamati objek yang ada di lingkungan sekolah, mencatat objek yang dilihat, didengar, maupun dirasakan saat itu. Urutan kegiatan sebagai berikut.
a. Siswa diajak mengamati lingkungan yang ada di sekitar sekolah. Siswa diberi kebebasan untuk mengamati objek yang ada di lingkungan sekolah, mulai dari keindahan taman di depan sekolah, gedung sekolah, sawah di belakang sekolah, taman di depan kelas, maupun halaman upacara. Siswa bebas menuangkan ide dan imajinasinya melalui kegiatan pengamatan secara langsung.
Hasil pengamatan tersebut dituangkan secara tertulis ke dalam bentuk kalimat-kalimat sederhana, yang selanjutnya dirangkai menjadi sebuah cerita. Nah, dari isi cerita itu siswa diminta membuat puisi dengan tetap memperhatikan kesesuaian isi, pemilihann kata/diksi yang tepat maupun rima/ sajak yang menarik. Hasil unjuk kerja dikumpulkan untuk dikoreksi. Pada akhir pertemuan siswa diberi tugas mengamati keindahan alam di sekitar tempat tinggal siswa sebagai pengayaan latihan menulis puisi minimal satu bait.
b. Siswa menyunting karya sendiri
Hasil unjuk kerja menulis puisi dibagikan (pada pertemuan berikutnya) untuk disunting siswa. Hal yang perlu disunting terutama pada segi pilihan kata. Pilihan kata yang harus disunting siswa telah terlebih dahulu ditandai atau dilingkari. Penyuntingan dapat berupa menghilangkan kosakata yang tidak perlu, mengganti dengan kosakata yang lain yang lebih puitis ataupun mengubah struktur kalimatnya. Hasil puisi siswa yang telah disunting dikumpulkan kembali untuk dipilih tiga karya terbaik. Karya terbaik dibacakan di depan kelas. Siswa yang lain mengapresiasi, memberikan komentar atau tanggapan secara lisan. Tiga karya terbaik dipajang pada majalah dinding sekolah sebagai penghargaan. Karya siswa yang lain didokumentasikan untuk bahan antologi puisi.

Dampak Tindakan Terhadap Siswa
1. Keaktivan siswa dalam proses belajar menjadi lebih baik
Peningkatan keaktivan siswa tampak dari persentase siswa yang melakukan aktivitas positif selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Aktivitas tersebut berupa aktivitas verbal maupun nonverbal, antara lain: (1) bertanya, (2) menjawab pertanyaan, (3), berpendapat/memberikan komentar, mengerjakan tugas, (4) berlatih menulis puisi.
2. Kompetensi kognetif siswa meningkat
Peningkatan kompetensi kognetif menulis puisi dapat diketahui dari hasil tes tertulis dan unjuk kerja. Hasil tes tertulis menunjukkan, siswa dapat menemukan unsur-unsur pembangun puisi. Kompetensi kognetif mengalami peningkatan pada setiap siklusnya. Nilai rata-rata kelas meningkat setelah diberi tindakan. Hasil unjuk kerja menulis puisi menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata kelas pada setiap indikator. Peningkatan terjadi terutama pada indikator kesesuaian isi dengan tema, rima yang menarik, dan diksi yang tepat. Selain itu, juga terjadi peningkatan pada jumlah kosakata dan jumlah kalimat yang diproduksi siswa.
3. Kompetensi Afektif Siswa Semakin Baik
Sikap siswa ketika guru membacakan puisi atau ketika siswa membacakan hasil karya puisinya di depan kelas rata-rata baik. Para siswa menghargai dan menikmati saat puisi sedang dibacakan. Siswa pun mampu menilai karya siswa lain yang dianggap paling baik dari setiap kelompok. Siswa merasa senang mengikuti pembelajaran menulis puisi berbasis lingkungan. Melalui strategi ini siswa mampu mengembangkan daya imajinatif, sikap kepedulian dan kesadaran siswa terhadap lingkungan sekitar serta menumbuhkan rasa syukur kepada sang Pencipta.

• Penulis adalah Sekretaris II ISPI Cilacap, Guru RSBI SMP N 5 Cilacap
• Korespondensi Email: masephy@ymail.com
• Contact Person (0282) 542119, HP 085647746459
• Action research Peningkatan Menulis Puisi Melalui Pembelajaran Apresiasi Sastra Berbasis Lingkungan Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 5 Cilacap catatan review hasil action research guru SD dan SMP RSBI yang diselenggarakan tanggal 16-19 Oktober 2009 di Semarang.
• Biodata:
Nama Lengkap: Mahmud Saefi, MPd
NIP: 19660302 198911 1 002
Tempat, Tgl. Lahir: Cilacap, 2 Maret 1966
Unit Kerja: SMP Negeri 5 Cilacap
Alamat: Jl. Ketapang No. 73 Gumilir Cilacap Utara 53231

POST POWER SYNDROME


Oleh : FX. Suparta

Bagi yang baru memulai karir, Post Power Syndrom bisa jadi belum pernah terlintas di benaknya. Seandainya pernah menyelinap di sanubari –pun, mungkin orang akan mengatakan ”Ah, itu sesuatu yang masih lama, dan belum tentu saya menjadi buruk karenanya, mengapa harus dipikirin? Daripada energi tercurah buatnya, lebih baik buat mengembangkan diri dalam karir”. Namun bagi mereka yang mendekati purna tugas, atau putus hubungan kerja (PHK) atau bagi mereka yang kehilangan jabatan, realita itu secara signifikan bisa menyita energi dan waktu hidupnya untuk menyikapinya.
Post Power Syndrom adalah syndrom atau gejala-gejala pasca kekuasaan. Gejala yang terjadi pada orang-orang yang tidak lagi menjabat di sebuah orgasisasi/perusahaan. Gejala itu bisa menyeruak pada ranah psikis maupun fisik, dan berpengaruh pada tingkah lakunya. Gejala ini pada umumnya bersifat negatif. Orang yang mengalami Post power Syndrom, secara psikis emosinya dapat menjadi labil, mudah tersinggung, merasa kesepian, dan adanya perasaan tidak berharga. “Saya sudah pernah menjadi peserta terbaik di diklat regional dan sudah menorehkan banyak prestasi, toh tidak kepakai juga”, kilah seorang yang kehilangan jabatannya.
Secara fisik, mereka yang mengalami post power syndrome nampak sering sakit-sakitan, tampak murung dan tubuh menjadi lemah. Pancaran pesona diri seakan ditelan mendung fakta kehidupan yang mereka hadapi. Perilaku sosial, mereka cenderung untuk menarik diri dari pergaulan, mereka mudah terjebak pada pola-pola kekerasan, baik berupa kata, ataupun tindakan. Kontrol diri menjadi rentan karena dominasi emosi atas rasionya. Namun, seluruh gejala itu bobotnya berbeda bagi masing masing orang yang mengalaminya.
Semua realitas di atas dapat terjadi karena pada diri seseorang mengalami krisis pertumbuhan. Mereka mengalami diri tidak berdaya ketika berhadapan dengan fakta bahwa jabatan dapat datang dan pergi. Mereka dengan senang hati menyambut jabatan baru tetapi mereka tidak siap diri ketika kehilangan jabatan yang dimiliki. Hidup yang mendasarkan harga diri pada sebuah jabatan akan mengalami kehampaan makna ketika jabatan itu tidak lagi melekat pada dirinya.

Apa yang harus dilakukan?
Semua orang yang pernah berkarir mendambakan post power happy, tetapi fakta menunjukkan banyak orang tidak mudah untuk merengkuhnya. Dan yang terjdi adalah post power syndrom. Hal itu terkait dengan berkurangnya pengaruh mereka dalam kehidupan (atau sekurang-kurangnya menurut anggapan mereka sendiri) dan berkurangnya perolehan financial akibat dari hilangnya jabatan mereka. Tidak mudah memang, tetapi menurut penulis ada langkah-langkah antisipatif yang bisa mengurangi dampak negative dari post power syndrome, sebagai berikut.
Pertama, membangun kesadaran signifikan dan Kontinyu bahwa Jabatan adalah amanah/titipan-Nya. Sebuah titipan pasti suatu ketika di minta kembali. Titipan tidak pernah abadi. Ada saatnya diberi, dan ada saat diambil. Kewajiban yang dititipi adalah menjaga agar titipan itu tetap baik dengan cara membuka tangan dan hatinya digunakan sebagai perpanjangan Tangan dan Hati-Nya.
Kedua, menjaga diri dari semangat hidup yang mendewakan materi, dan konsumerisme. Dengan semangat hidup sederhana selama menjabat, dapat mengantisipasi hal-hal financial ketika harus kehilangan jabatan.
Ketiga. memgembangan kesadaran bahwa dalam keadaan apapun juga: senang-sedih, suka-duka, untung-malang, punya jabatan atau tidak, setiap orang tetap dicintai oleh Penciptanya. Ungkapan bijak mengajarkan kepada manusia untuk meresapkan dan melihat dengan seksama, betapa baik-Nya Tuhan. Dia Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, tidak mengurangi satu inchi-pun kasih-sayang Nya kepada ciptaan-Nya. Dia menunggu rasa syukur ciptaan-Nya menjadi penuh dalam segala hal. Manusia yang senantiasa memuji dan bersyukur kepada-Nya dalam segala hal dapat menyembuhkan luka-luka batinnya.
Keempat membangun jiwa yang ikhlas. Dengan menyiapkan secara baik “anak-buahnya” untuk menjadi pemimpin masa depan ketika menjabat, melatih diri menjadi ikhlas ketika suatu ketika jabatan itu diambil darinya.
Kelima, menggunakan momentum selama menjabat sebagai deposito kebajikan, sehingga tangki emosinya dipenuhi oleh kekayaan batin yang berharga. Dan, ketika bencana emosional melandanya, tangki emosi itu tidak kekurangan ungkapan kepasrahan kepada-Nya dengan berkata “Pada –Mu kuserahkan yang Kau- minta, “
Ke enam, tetap berkarya meski berduka, tetap semangat meskipun gairah meredup, dan tetap berbakti meskipun sedang diuji adalah pertanda kekuatan karakter seseorang. Sebab kebenaran mengajarkan bahwa orang bekerja tidak mengabdi pada jabatan, melainkan jabatan harus melayani kesejahterakan hidup sesama. Dan bila begitu tunggu apa lagi, soal rejeki ada ditangan-Nya .Seseorang hanya diminta mengenali rahasia kemurahan-Nya dengan bekerja, mengeksplorasi potensi diri dengan kesungguhan dan dengan ketulusan.
Ketujuh, menghentikan cerita lama tentang sukses menjalani kekuasaan dan menggantinya dengan kisah baru berupa rencana-rencana matang melayani kehidupan, sebab hidup tidak bergerak mundur melainkan ke depan, yang memiliki problematikanya sendiri. Dan benarlah ungkapan bahwa seseorang yang ingin menjadi besar hendaknya menjadi pelayan mereka yang kecil.
Selain ketujuh upaya di atas, adanya dukungan empatif dari keluarga, lingkungan dan teman sejawat /koleganya, membantu meringankan beban batinnya untuk bangkit menyongsong pekerjaan baru bagi perkembangan hidup yang lebih bermakna. Semoga.

Penulis adalah mantan Kepala Sekolah,
Sekarang bertugas sebagai guru SMP N 2 Kroya.

Kamis, 26 Agustus 2010

Ekuivalensi Jam Mengajar Bagi Wali Kelas dan Pembantu Kepala Sekolah



Oleh: Mirza Gholam Mokhammad
Ketua Umum ISPI Cabang Cilacap


Tugas yang diemban seorang wali kelas tidaklah ringan. Mereka harus melaksanakan fungsi-fungsi pendampingan, pembinaan, dan administratif untuk sebuah kelas yang merupakan himpunan siswa dengan permasalahannya masing-masing agar seluruh siswa mencapai hasil yang optimal selama mengikuti pendidikan.
Demikian juga bagi guru yang mendapat tugas khusus dari kepala sekolah dalam melaksanakan fungsi-fungsi manajerialnya di sekolah (SMP/MTs) yang hanya memiliki seorang wakil kepala sekolah.
Untuk tampil sebagai seorang guru yang profesional -yang mampu melaksanakan tugas-tugas pokok keguruannya dengan baik- bukan persoalan yang ringan bagi seorang guru. Maka tugas tambahan yang diemban guru di luar tugas pokoknya sebagai guru, jelas membuat beban guru tersebut semakin berat.
Saya rasa semua guru tahu bahwa pekerjaan yang harus dilakukan oleh wali kelas dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya tidak hanya pada saat-saat penerimaan rapot saja. Tugas-tugas pendampingan dan pembinaan, dan bahkan sebagian tugas administratif wali kelas berjalan sepanjang tahun, mulai awal tahun hingga akhir tahun pelajaran. Demikian juga pekerjaan yang harus dilakukan oleh guru yang diberi tugas khusus membantu kepala sekolah.
Memang tugas-tugas di atas telah dihargai dengan angka kredit untuk kenaikan jabatan guru, tapi bukankah kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan juga sebagian petugas-petugas lain di sekolah juga sudah diberi penghargaan angka kredit?
Oleh karena itu, menurut penulis, tugas guru sebagai wali kelas dan sebagai petugas pembantu kepala sekolah selayaknya diberi penghargaab dengan ekuivalensi jam pelajaran. Kalau guru yang diberi tugas sebagai wakil kepala sekolah dihargai setara dengan mengajar 12 jam pelajaran, dan kepala sekolah 18 jam pelajaran perminggu, barangkali tugas-tugas wali kelas dan pembantu kepala sekolah dapat disetarakan dengan mengajar 6 jam pelajaran perminggu.
Hal ini penting dilakukan, karena kalau tidak, pasti guru memilih tidak mendapat tugas tambahan tersebut. Semua guru dalam satu sekolah yang mendapat tugas tambahan tersebut akan merasa keberatan, 'mengapa saya yang diberi tugas, dan bukan dia?
Semoga menjadi pemikiran bagi pihak-pihak terkait.

Penulis adalah mantan Kepala SMP Negeri 2 Kroya, sekarang sebagai Pengawas Sekolah di Disdikpora Cilacap

Minggu, 27 Juni 2010

Guru dan Karakter Bangsa



Oleh: Zaenal Arifin, S.Pd.

Guru SMPN 2 Kroya

Saat ini menjabat sebagai Sekretaris ISPI Cilacap


“Kedisiplinan yang rendah, ketenggangrasaan yang meluntur, keramahan yang menipis, kepekertian yang memudar, keteladanan yang menghilang, dan prestasi yang rendah merupakan merupakan cermin dunia pendidikan kita akhir-akhir ini” (Ki Supriyoko).

Seolah membenarkan pendapat Ki Supriyoko di atas, hari Rabu, tanggal 23 Juni 2010 yang lalu, SMP Purnama 2 Cilacap mengadakan Seminar Nasional bertajuk Peran Satuan Pendidikan dalam Menanamkan Pendidikan yang Berbasis Karakter Bangsa. Dalam seminar tersebut mengemuka anggapan yang kuat bahwa karakter bangsa: disiplin, tenggang rasa, ramah, budi pekerti, dan keteladanan telah hilang dari dunia pendidikan. Kasus-kasus yang menimpa dunia remaja dewasa ini semakin menguatkan anggapan tersebut. Narkoba, perkelahian, seks bebas, asusila, bahkan tindak kriminal merupakan sesuatu yang marak terjadi di kalangan remaja kita.

Di mana peran pendidikan formal dalam mereduksi masalah-masalah itu? Barangkali tidak salah jika sebagian besar masyarakat menuding bahwa pendidikan formal telah gagal dalam mencetak murid yang memiliki karakter bangsa. Sedikitnya ada dua hal yang menyebabkan kegagalan tersebut, yaitu manajemen sekolah dalam mengaktualisasikan visi sekolah dan keteladanan guru.

Aktualisasi Visi Sekolah

Sejak era MBS (Manajemen Berbasis Sekolah), setiap sekolah diharuskan memiliki visi sekolah, di mana visi itu dijadikan ‘ruh’ dari perjalanan sekolah dalam menjalankan perannya. Atau bisa dikatakan visi sekolah adalah jiwa seluruh perangkat kerja sekolah (termasuk program kerja sekolah) dalam menjalankan peran dan fungsinya. Sejak saat itu pula, seluruh sekolah telah menyusun visinya. Banyak pula di antaranya yang menyelipkan aspek karakter bangsa di dalam visi sekolahnya.

Sebuah sekolah menyusun visinya “Membentuk Generasi yang Berkompetensi Tinggi, Beriman, Santun, dan Mandiri”. Sekolah yang lain visinya “Unggul dalam Prestasi, Santun dalam Perilaku”. Dari visi dua sekolah tersebut, nampak bahwa pembentukan karakter bangsa pada siswa di sekolah itu, sangat kuat menjiwai langkah kerja sekolah itu. Berkompetensi/berprestasi tinggi adalah dalam rangka mengejar aspek kognitif, dan aspek afektif tercermin dari visi beriman, santun, dan mandiri. Jika visi sekolah tersebut diaktualisasikan dengan optimal, saya kira kondisi pendidikan sebagaimana diungkapkan oleh Ki Supriyoko di atas tidak terjadi.

Pada kenyataannya, visi sekolah saat ini, sebagian besar hanyalah simbol atau slogan belaka. Aktualisasinya dalam kebijakan sekolah terbilang rendah. Sebagian besar sekolah hanya mengedepankan aspek kognitifnya (prestasi akademik) dan melupakan aspek lainnya.

Keteladanan Guru

Hal lain yang juga mengemuka dalam seminar nasional di atas adalah rendahnya keteladanan guru. Guru merokok di kelas, guru terlambat datang ke sekolah (atau masuk ke kelas), guru yang tidak berpakaian semestinya, guru yang kurang menguasai materi yang disampaikan kepada siswa, barangkali adalah pemandangan jamak yang terjadi di sekolah.

Sejak dulu, guru selalu menjadi anutan tidak hanya siswa di sekolah, tetapi juga masyarakat di luar sekolah dalam menyelesaikan aneka ragam permasalahan yang dihadapi masyarakat. Dalam hal ini, tidak salah jika Ki Hajar Dewantara menciptakan semboyan bagi guru: ing ngarso sung tuladha (di depan memberi contoh), ing madya mangun karsa (di tengah memberi semangat), dan tut wuri handayani(di belakang memberi dorongan).

Rasulullah SAW, ketika memerintahkan kebaikan, maka beliaulah orang pertama yang menjalankannya, dan ketika memerintahkan manusia menjauhi kejahatan, maka beliaulah orang pertama yang menjauhinya. Dalam ajaran Rasulullah SAW ini, kesesuaian perkataan dan perbuatan adalah hal yang sangat penting. Ketika guru menyampaikan tata tertib sekolah, maka gurulah orang pertama yang harus menegakkan peraturan tersebut pada dirinya. Ketidaksesuaian antara perkataan dengan perbuatan yang dilakukan guru hanya akan membuat murid bingung, dan akhirnya tidak menghiraukan perkataan tersebut.

Sabtu, 13 Februari 2010

GURU PROFESIONAL, KEBERADAANNYA SELALU ADA



Oleh : SUPANDI, S.Pd, MM


Hampir semua terobosan penting dalam dunia ilmu pengetahuan

diawali dengan melepaskan diri dari tradisi, cara berpikir kuno atau paradigma lama.

(Thomas Kuhn)

Istilah guru profesional menjadi semakin akrab di telinga para guru dewasa ini. Cita-cita untuk menjadi seorang guru profesioanl sudah semakin melekat di hati semua guru baik yang sudah memperoleh sertifikat pendidik maupun yang belum. Greget semacam ini tercermin dari kinerja guru yang mulai berani menerapkan model-model Pembelajaran yang Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM). Tentunya hal ini tak lepas dari peran serta pemerintah, lembaga-lembaga non pemerintah, dan pemerhati pendidikan dalam upayanya memberikan sharing tentang isu-isu yang berkembang saat ini.

Secara prinsip panggilan menjadi seorang guru profesional sebagaimana yang di amanatkan oleh Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen sebenarnya sejak awal sudah direspon oleh para guru. Seseorang yang pada awalnya memang sudah bercita-cita menjadi guru, ketika status tersebut disandangnya maka secara otomatis dia menyadari sepenuhnya bahwa menjadi guru adalah merupakan panggilan jiwa. Menjadi guru disadari memerlukan keahlian khusus. Dengan demikian pesan moral yang terkandung di dalam Undang-undang tersebut pada dasarnya sudah Dia miliki sejak awal.

Namun demikian tentunya tidak sesederhana itu dalam merespon pesan yang terkandung dalam Undang-undang Guru dan Dosen tersebut. Komitmen yang tinggi tentunya sangat dibutuhkan untuk mewujudkannya. Hal ini penting mengingat guru adalah sebagaimana manusia pada umumnya, yang memiliki sifat-sifat manusiawi. Sifat-sifat manusiawi manusia di dalamnya terdapat dua sisi yang saling kontradiktif ; semangat vs malas, kreatif vs pasif, idealis vs masa bodoh.

Terkait dengan sifat manusiawi manusia sebagaimana dijelaskan diatas, kelahiran Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tidak dapat dipungkiri telah dan akan memberikan pencerahan yang cukup berarti bagi guru dan dosen. Secara finansial jelas bahwa kebijakan memberikan tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok tiap bulannya tentunya bisa meningkatkan kesejahteraan para guru. Namun dibalik semua ini yang lebih penting adalah bagaimana para guru memainkan peranannya dalam rangka mewujudkan keinginan pemerintah meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

Sikap dasar yang segera dimiliki oleh para guru adalah kemauan untuk menggeser paradigma dari old vision (visi lama) ke new vision (visi baru) yang kreatif dan inovatif. Isu-isu penting yang akan menyertai perkembangan dunia pendidikan adalah persaingan internasional dan terjadinya perubahan mendasar (Ace Suryadi, 2002). Untuk itulah paradigma para guru harus mengalami pergeseran secara mendasar dan kontinyu. Kita hidup dalam suatu abad yang penuh dengan perubahan-perubahan cepat; abad yang dipenuhi dengan penemuan-penemuan baru dalam pengetahuan dan teknologi, hal-hal baru dalam teori, metode, permasalahan, dan pemecahannya.

Empat kompetensi dasar, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, komptensi kepribadian, dan kompetensi sosial sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-undang Guru dan Dosen selayaknya dapat dijadikan acuan untuk melakukan perubahan. Demikianlah konsep dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru profesional. Sejauh mana implementasi ke empat kompetensi diatas dalam diri kita sebagai guru akan mencerminkan tingkat profesioalitas kita.

Kepada Siapakah Guru Profesional Berguru?

Kompetensi Pedagogik. Kita hidup dalam suatu abad yang penuh dengan perubahan-perubahan yang serba cepat. Hal ini menuntut kita untuk mengikuti perubahan itu. Siapa yang enggan melakukan perubahan maka akan tertindas oleh perubahan yang bergerak lebih cepat. Berbagai penemuan baru termasuk yang berkaitan dengan model-model pembelajaran yang belum kita kenal sebelumnya hendaknya senantiasa kita ikuti dan kita aplikasikan dalam proses belajar mengajar.

Salah satu isu terbaru berkaitan dengan model pembelajaran di kelas adalah model pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning). Model pembelajaran yang mengaitkan antara informasi (ilmu) yang diperoleh oleh siswa dengan situasi dunia nyata ini hendaknya senantiasa kita gali dan kita aplikasikan dalam PBM (Proses Belajar Mengajar).

Salah satu cara untuk bisa memahami dan menerapkan konsep dasar dari model-model pembelajaran yang sedang popular saat ini adalah dengan melakukan sharing dengan rekan-rekan guru melalui forum MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) atau forum-foru diskusi lainnya.

Dengan banyak sharing dengan rekan-rekan guru kita bisa memperoleh banyak masukan. Kita bisa mengapilkasikan beberapa model pembelajaran yang cukup beragam. Diantara model-model pembelajaran yang terkandung di dalam CTL diantaranya : Cooperative Learning (CL) tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions), CL tipe TGT (Team Game Tournament), dan CL tipe Jigsaw (Expert Team). Disamping itu ada beberapa model lainnya, seperti : Role Playing (bermain peran), Problem Based Intruction (PBI), Course Review Horay (Bingo), Change of pairs (Tukar pasangan), English Debate, Group Investigation, dan lain-lain.

Satu prinsip yang lebih penting yang bisa kita lakukan untuk anak-anak kita adalah bagaimana paradigma mengajar kita bisa menginspirasi anak. Tanpa mengesampingkan bukti autentik berupa nilai hasil belajar anak sebagaimana yang tertulis dalam daftar nilai, namun pada hakekatnya kecenderungan mengutamakan proses belajar justru merupakan sesuatu hal yang lebih penting.

Kreatif dan Inovatif Melalui Sharing

Kompetensi Profesional. Memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah kebutuhan pokok seorang guru profesional. Langkah bijak kearah perbaikan diri dengan upaya kongkrit menambah ilmu seharusnya dilakukan secara intens. Guru adalah cermin seorang yang memiliki banyak ilmu. Karena dari gurulah murid berharap banyak adanya transfer ilmu kepada diri mereka. Hal ini juga yang disyaratkan oleh Undang-undang Nomor 14 tahun 2005, yakni terkait dengan kompetensi pedagogik.

Bagaimana dan darimana memperoleh sumber ilmu? Tentunya hal ini tidak terbatas pada referensi-referensi terbatas yang hanya berhubungan dengan disiplin ilmu yang menjadi tanggung jawabnya saja. Posisikan diri Anda sebagai cahaya bagi murid-muridnya. Jadikan diri Anda sebagai sumber inspirator bagi orang lain dan bagi para siswa. Posisikan diri Anda sebagai tokoh idola bagi murid-muridnya melalui pancaran kewibawaan Anda atas dasar cakupan intelektual yang tinggi.

Ada satu inspirasi yang dapat saya tangkap dari guru dan sekaligus sebagai kepala sekolah saya di SMP. Salah satu kebiasaan beliau yaitu membaca satu buah buku dalam setiap malamnya telah berhasil mempengaruhi sisi kehidupan saya untuk melakukan pembiasaan mengkonsumsi buku minimal satu buku dalam setiap bulannya. Ketika buku-buku tersebut tertata rapi di almari kaca maka kecenderungan untuk mengambil dan membacanya lambat laun akan menjadi sebuah kebiasaan dan bahkan kebutuhan.

Demikianlah makna mendalam yang telah diberikan oleh guru saya di SMP. Tentunya kitapun sebenarnya telah banyak memberikan inspirasi kepada anak-anak kita. Hanya saja seberapa besar dan seberapa banyak kuantitas inspirasi yang berhasil mereka ambil adalah meruapakan sesuatu yang unmeasurable (tidak terukur).

Self Control (Kontol Diri)

Kompetensi Kepribadian. Apa yang Anda pikirkan adalah cermin pribadi Anda. Demikian pula apa yang Anda lakukan mencerminkan kepribadian Anda. Pernahkah Anda berpikir bahwa setiap gerak langkah Anda pada dasarnya dinilai oleh orang lain, rekan guru, kepala sekolah, dan bahkan anak? Pernahkah Anda menyadari bahwa apa yang kita lakukan pada dasarnya bisa menginspirasi orang lain?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas dibutuhkan adanya penataan diri dan kontrol diri yang handal. Dalam diri setiap individu terdapat internal shift (pergeseran internal). Internal shift harus senantiasa dikendalikan mengingat seringkali internal shift seseorang cenderung menuju ke arah sikap yang kurang menguntungkan, seperti malas atau enggan masuk kelas, tidak kreatif, terlena di zona nyaman, atau bahkan tindakan yang bisa mencemari kode etik guru.

Eksistensi Diri

Kompetensi Sosial. Sosok guru sebagai mahluk sosial sekaligus sebagai guru profesional eksistensinya harus bisa memberikan kemanfaatan bagi sesama, kapan dan dimanapun berada. Dalam dunia pendidikan minimal di tingkat institusi sekolah keberadaan guru profesional harus bisa memberikan sumbangsih yang bermanfaat bagi kemajuan dunia pendidikan. Disinilah pentingnya kreatifitas guru dalam upayanya ikut mendorong kemajuan sekolah. Ide-ide segar tentunya sangat diharapkan sebagai masukan positif untuk kepentingan prestasi sekolah.

Kenyataan yang ada menunjukkan adanya inferioritas di kalangan para guru, merasa tidak lebih baik untuk menyampaikan ide. Mereka lebih cenderung menghindar dari hal-hal yang sekiranya mengandung resiko dan berbenturan dengan kebijakan yang ada. Sebagai imbas dari sikap-sikap yang demikian adalah tersumbatnya ide-ide segar.

Pengalaman membuktikan bahwa selama ide-ide yang disampaikan mengacu kepada kepentingan anak didik dan kepentingan institusi sekolah maka fenomena diatas tidak selamanya terjadi. Disadari atau tidak, i’tikad baik tersebut akan bermuara pada kemanfaatan prestasi dan kemajuan anak. (***)

Referensi :

  1. Tengku Ramly, Amir & Trisyulianti, Erlin, Pumping Teacher, Kawan Pustaka Depok, 2006.
  2. Nurdin, M, Pendidikan Yang Menyebalkan, Ar-Ruzz Media, Jogyakarta, 2005.
  3. George Boeree, C, Dr, Metode Pembelajaran & Pengajaran, Ar-Ruzz Media, Jogyakarta, 2008.

Profil Penulis

Nama : SUPANDI, S.Pd, MM.

Tempat/Tgl lahir : Cilacap, 10 Agustus 1965

Alamat : Puri Mujur 163 Kroya – Cilacap - Jawa Tengah

Pekerjaan : Guru SMP Negeri 2 Binangun

Riwayat Pekerjaan: Guru honorer di SMP PGRI 9 Maos Cilacap (1990-1993), Guru di SMPN 2 Binangun Cilacap, Guru Pemandu MGMP Bahasa Inggris, Ketua MGMP Bahasa Inggris periode 2009-2011, Pengurus Agupena Cilacap periode 2009-2014, Pengurus ISPI Cilacap periode 2010-2014.

Motto Hidup : Lakukan perubahan

Phone : (0282) 494921

HP. : 081391274742

e-mail: supandi_mm@yahoo.com

Selasa, 02 Februari 2010

ISPI Cilacap, Secercah Harapan Bagi Pengembangan Profesionalisme Guru di Cilacap


Oleh: Zaenal Arifin, S.Pd.

Bertempat di gedung Bank Jateng Purwokerto, Sabtu 23 Januari 2010, telah dilaksanakan pelantikan pengurus ISPI cabang Cilacap Periode 2010-2014. Pelantikan dilakukan oleh Ketua ISPI Daerah Jawa Tengah, Prof.DR.H. Trisno Martono. Pelaksanaan pelantikan bersamaan dengan kegiatan Seminar dan Lomba Penulisan Artikel. Sebagai ketua adalah Drs. Mirza Gholam Mokhamad dari SMP Negeri 2 Kroya.
ISPI (Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia) merupakan organisasi profesi di bidang pendidikan dalam arti yang seluas-luasnya. Bertujuan menyumbangkan tenaga dan pikiran kepada pembangunan pendidikan Nasional secara profesional agar lebih terarah, berhasil guna dan berdaya guna, melalui pengembangan dan penerapan Ilmu Pendidikan untuk kemajuan dan kepentingan Bangsa dan Negara. Kepengurusan ISPI berjenjang dari tingkat pusat, tingkat daerah propinsi, dan tingkat cabang kabupaten. Melihat tujuan ISPI tersebut, nampaknya harapan besar tertuju pada kiprah ISPI, sejauh mana dapat meningkatkan kualitas pendidikan kita.
Khusus di Cilacap, menurut saya ada beberapa proyek besar terkait dengan peningkatan kualitas pendidikan, utamanya peningkatan profesionalisme guru. Di antaranya adalah:
1. Peningkatan penguasaan IT bagi guru
Seperti diketahui, selama ini penguasaan terhadap IT (Teknologi Informasi = internet) oleh guru di Cilacap masih rendah. Jarang sekali ada guru yang memanfaatkan teknologi ini dalam pembelajaran di kelas, bahkan untuk hanya sekedar berkomunikasi. Dari sekian ribu jumlah guru di Cilacap, masih hanya beberapa saja yang sudah punya e-mail, akun facebook, tweeter, blog, atau situs, dan menggunakannya untuk berkomunikasi atau dimanfaatkan sebagai sumber belajar.
2. Peningkatan kemampuan menulis
Kemampuan menulis, terutama dalam menciptakan karya ilmiah, masih rendah. Ini dapat dilihat dari realitas bahwa masih sangat sedikit guru yang bisa mencapai golongan ruang IV/b, yang sebagian besar terganjal aturan pengembangan profesi yang di antaranya adalah menciptakan karya ilmiah.
Pemberian pelatihan secara intensif barangkali dapat mengatasi persoalan-persoalan di atas. Tentu saja, model pelatihannya harus benar-benar intensif, sehingga akan dihasilkan guru-guru yang profesional.
ISPI Cilacap, sebagai organisasi independen, diharapkan dapat menjadi motor penggerak bagi pengembangan profesionalisme guru di Cilacap. Semoga.

Penulis adalah Alumnus IKIP Yogyakarta
Aktif mengajar di SMP Negeri 2 Kroya
Saat ini menjabat sebagai Sekretaris ISPI Cabang Cilacap

Rabu, 27 Januari 2010

Pelantikan Pengurus ISPI Cilacap



Bertempat di gedung Bank Jateng Purwokerto, Sabtu 23 Januari 2010, telah dilaksanakan pelantikan pengurus ISPI cabang Cilacap Periode 2010-2014.

Pelantikan dilakukan oleh Ketua ISPI Daerah Jawa Tengah,
Prof.DR.H. Trisno Martono.

Susunan pengurusnya sbb.:
Dewan Pembina: Drs. Sutanto, M.M., Dr. Tumisem, Dra. Susi Wardani, MM.Pd., Drs. Suratman, MM.Pd., Jatun AS, S.Pd.
Ketua : Drs. Mirza Gholam Mokhamad
Wakil Ketua : Drs. Fuad Aljihad
Sekretaris : Zaenal Arifin, S.Pd., Mahmud Saefi, S.Pd.
Bendahara : Suratmi, S.Pd., M.M.
Seksi Penelitian Pendidikan/Pembelajaran: Aris Santoso, S.Pd., Slamet, S.Pd., Drs. Purnomo.
Seksi Pengembangan Pendidikan/Pembelajaran: Puji Kurniawan, S.Pd., Drs. Slamet Triyono, Nono Sriyono, S.Pd.
Seksi Pengabdian Kepada Masyarakat: Suhadi, S.Pd., M.M., Rasmun Dwi Waskito, S.Pd., Dra. Puji Astuti Wardani, M.M.
Seksi Kerjasama: Subowo, S.Pd., Ilawati S.S., Yuliana, S.Pd.
Seksi Pengembangan Karier: Drs. FX. Suparta, MM.Pd., Suswandi, S.Pd., Drs. Sarjiyanto.
Acara pelantikan ini bersamaan dengan kegiatan Seminar Nasional dan Lomba Penulisan Artikel Nasional, dan berakhir sekitar pukul 13.00 WIB.
Selamat kepada jajaran pengurus ISPI Cilacap, selamat berjuang, dan dunia pendidikan di Cilacap menunggu aksi-aksi dari ISPI Cilacap.